Category Archives: Kesehatan

Vaksin COVID-19 Kini Berbayar, Masih Ada Peminatnya Nggak Sih?

Jakarta –

Dengan semakin terkendalinya situasi pandemi, vaksin COVID-19 tidak lagi gratis di Indonesia. Dengan banderol harga sekitar Rp 290 ribu, masih banyak lagi yang berminat?

Pantauan Deticcom di RSUD Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (22/2/2024), pasien yang datang untuk menerima vaksin COVID-19 bisa dihitung dengan jari satu tangan. MCU/Ruang Vaksinasi di lantai 1 tidak terlihat antrian tempat pelaksanaan vaksinasi, seperti halnya pada saat pemberian vaksin COVID-19 pertama kali pada masa pandemi.

Hal tersebut dibenarkan oleh Dr Ngabila Salama, MKM, Kepala Pelayanan Medis & Keperawatan RS Tamansari. Menurut dia, peminat terhadap vaksin berbayar belum terlalu tinggi, kemungkinan karena belum banyak disosialisasikan.

“Dari 90 orang yang mengajukan vaksinasi sejak awal tahun, kami mendekati 50 orang yang membayar, namun akhirnya hanya 10 orang yang membayar dan mendapat suntikan hari ini,” ujarnya saat dihubungi Detikcom.

Salah satu tantangan yang dihadapi rumah sakit adalah harus mengumpulkan 10 pasien sebagai calon penerima vaksin Covid-19, yang kemudian bisa disuntik vaksin. Sebab, satu botol (kemasan vaksin) berisi dosis untuk 10 orang dan harus digunakan dalam waktu 8 jam.

“Harus kumpulkan 10 orang dulu baru buka botolnya, karena bungkusan itu harus dibuang dalam waktu 8 jam setelah dibuka. Sayang dan rugi kalau tidak berhasil. Semoga kedepannya bisa satu dosis vaksin Covid-19 akan tersedia, sehingga pelaksanaan penyuntikannya akan lebih mudah dan fleksibel,” kata dr. Ngabila.

Sebagai informasi, jenis vaksin Covid-19 yang digunakan di RSUD Tamansari adalah Indovac, vaksin yang diproduksi oleh PT Biopharma. Vaksin ini diberikan kepada masyarakat berusia 18-59 tahun yang tidak memiliki penyakit penyerta. Tonton video “Pengamat yakin vaksin Covid-19 akan gratis” (Haifa Noor Raida / Top)

Kenali Gejala Kanker pada Anak

REPUBLIK.CO. Hal ini untuk memastikan kanker dapat dideteksi dan diobati sejak dini.

Dalam webinar yang diselenggarakan RSCM di Jakarta akhir pekan lalu, beliau mengatakan: “Meskipun kanker pada masa kanak-kanak hanya berjumlah lima persen dari total populasi, sel kanker menyebar dengan sangat cepat sehingga perlu segera diobati.”

Ia mengatakan, kanker pada anak secara umum dibedakan menjadi dua kategori, yaitu kanker darah dan kanker padat (tumor). Kanker darah bisa merupakan kelainan pada sel darah di tulang, seperti leukemia atau limfoma.

Leukemia adalah kanker yang menyerang darah dan tulang, sedangkan limfoma adalah kanker yang menyerang kelenjar getah bening.

Murti menjelaskan, anak penderita kanker darah mungkin memiliki gejala seperti demam, infeksi, dan pendarahan. Terkadang, kanker darah juga menyebabkan nyeri tulang dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Meski demikian, Murti mengatakan, anak dengan gejala tersebut belum tentu menderita kanker darah.

Seorang konsultan onkologi pediatrik mengatakan: “Gejalanya tidak spesifik dan sulit didiagnosis. Jadi lebih banyak tes laboratorium harus dilakukan untuk melihat apakah ada tanda-tanda kanker.”

Murti menjelaskan, tumor serius yang banyak ditemui pada anak antara lain tumor otak, tumor mata, tumor kepala dan leher, kanker ginjal, kanker tulang, dan kanker hati.

Ia melanjutkan, gejala tumor padat, termasuk tumor di bagian tubuh yang terkena kanker.

Menurutnya, tumor kanker biasanya tumbuh dengan cepat, berkembang pesat, dan disertai gejala lain seperti penurunan berat badan akibat pola makan yang buruk.

Gejala lain mungkin termasuk perut besar, mata besar dan pembengkakan di leher atau tulang, katanya.

“Jika terdeteksi gejala tersebut, apalagi anak terlihat menguning dan tidak bisa bekerja, sebaiknya bawa ke dokter. Kalau terlambat, harusnya ada pengobatan medis dulu dan ini menunda pengobatan kanker,” ujarnya. dikatakan. .

8 Pakar Pangan Sebut Air Galon Kemasan Polikarbonat Aman Dikonsumsi

Musikktropp – Setidaknya 8 pakar teknologi, keamanan pangan, dan kimia dari universitas ternama di Indonesia menyatakan 1 galon air minum kemasan polikarbonat (PC) masih aman dikonsumsi masyarakat. Menurut mereka, bahan baku kemasan galon komputer aman untuk air minum dalam kemasan yang dapat digunakan kembali. Spesialis teknologi produk polimer/plastik, sekaligus pengelola Laboratorium Teknologi Green Polymer Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Assoc. guru Hal tersebut dibenarkan Dr Mochamad Chalid, Ph.D.

Kelebihan BPA dihilangkan dari tubuh. Sementara itu, pakar teknologi pangan IPB Dr Eko Hari Purnomo menegaskan, jumlah BPA dalam galon air minum dalam kemasan komputer tidak menimbulkan risiko kesehatan. PC yang mengandung BPA digunakan per galon air minum karena keras, kaku, transparan, mudah dibentuk, dan relatif tahan panas. Berdasarkan informasi yang ada, penggunaan kemasan galon jenis ini tidak menimbulkan banyak risiko kesehatan, terutama dari segi BPA. Khusus untuk produk akuatik, potensinya sangat kecil, karena BPA tidak larut dalam air. ,” kata Eco. . “Menurut saya, data penelitian yang tidak diambil dari galon komputer masih diikuti oleh masyarakat yang mempertanyakan bahaya BPA di galon komputer. Sementara berbagai penelitian menunjukkan bahwa migrasi BPA dari galon komputer ke dalam minuman, khususnya air, masih jauh di bawah batas migrasi yang diperbolehkan, ujarnya. Ahli kimia dan polimer dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Zainal Abidin mengemukakan, BPA dan PC adalah dua hal yang berbeda. Banyak orang yang salah mengira bahan kemasan plastik dan BPA sebagai prekursornya.

Menurutnya, BPA hadir dalam proses pembuatan plastik komputer.

Guru Besar Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor (IPB), Syaefudin, calon ilmu, mengungkapkan bahwa bisphenol-A (BPA) yang tidak sengaja dikonsumsi konsumen dalam kemasan makanan, kembali dikeluarkan dari dalam tubuh. BPA diubah menjadi senyawa lain di hati sehingga lebih mudah dikeluarkan melalui urin, ujarnya.

“Jika tubuh kita tidak sengaja mengonsumsi BPA, misalnya dari air minum kemasan yang mengandung BPA, maka akan dikeluarkan kembali. Ada proses glukuronidase di hati yang mengandung enzim yang mengubah BPA menjadi senyawa lain sehingga dapat dengan mudah dikeluarkan oleh tubuh. . melalui urin,” katanya.

Selain itu, kata Xiaefudin, BPA sebenarnya memiliki separuh biologis. Artinya, ketika misalnya 10 unit BPA masuk ke dalam tubuh, hanya tersisa 5 unit dalam waktu 5-6 jam.

“Setengahnya lagi dikeluarkan dari tubuh. Artinya, racun yang ada di dalam tubuh justru berkurang, ujarnya.

Pakar teknologi pangan yang juga Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Prof. Dedi Fardiaz mengatakan, sebenarnya perpindahan zat yang bersentuhan dengan pangan ke dalam produk pangan sudah diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan.

Peraturan tersebut menyatakan bahwa beberapa barang yang harus bebas dari bahan kontak pangan tidak hanya kemasan komputer yang mengandung BPA, tetapi juga produk lain seperti peralatan makanan dan minuman melamin, kemasan makanan plastik polistiren (PS), timbal (Pb). ) kemasan pangan, kadmium (Cd), Kromium VI (Cr VI), merkuri (Hg), kemasan pangan yang terbuat dari senyawa ftalat dari polivinil klorida (PVC), kemasan pangan dari polietilen tereftalat (PET), serta kemasan pangan dari kertas dan karton dari senyawa ftalat. Khusus soal BPA, katanya, BPOM telah membentuk unit keamanan pangan serupa dengan yang lain, disebut TDI (Tolerable Daily), sesuai ketentuan Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan, batas maksimal migrasi BPA adalah 0,6 bagian per juta (bpd, mg/kg). Pertengahan tahun lalu, kata Dedi, BPOM juga melakukan uji komputer terhadap migrasi BPA di AMDK dan menemukan hasilnya terlalu rendah dibandingkan persyaratan kadar air.

“Setelah dilakukan perhitungan, ternyata paparannya jauh lebih sedikit dari angka tersebut. Artinya relatif aman,” ujarnya Guru Besar dan Peneliti Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB Dr Nugraha E. Suyatma, STP DEA juga tidak sependapat dengan anggapan bahwa air minum dalam kemasan galon PC berbahaya bagi kesehatan, menurutnya, galon tersebut telah diuji residu BPA sebelum didistribusikan.

“Air galon polikarbonat relatif aman digunakan dan tidak harus diberi label BPA,” ujarnya. Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Ahmed Sulaiman, MS, C.Ht, mengatakan pencantuman logo berulang dengan nomor dan nama bahan kemasan di bagian bawah kemasan botol kini benar-benar aman dan tidak memerlukan penambahan label bebas BPA. . Wakil Presiden Codex Alimentarius Commission (CAC), prof. Dr Ir Purvijatno Hariyadi, M.Sc yang juga peneliti senior Seafast Center LPPM IPB mengatakan, aturan keamanan pangan yang bersifat diskriminatif dan hanya berlaku pada produk tertentu pada prinsipnya bukanlah peraturan yang baik. Menurut dia, hal ini dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan kebijakan yang ada saat ini. Menurut Purviatno, belum cukup penelitian yang dilakukan terhadap produk itu sendiri, sehingga berbahaya bagi kesehatan.

“Kalau bicara risiko keamanan pangan, yang jadi pertanyaan bukan ada tidaknya risiko, dalam hal ini BPA pada produk, tapi seberapa banyak orang yang terpapar BPA,” ujarnya.

Bagaimana Mencegah Gizi Buruk dan Stunting pada Anak? Ini Saran Ahli

Musikktropp, JAKARTA – Pakar gizi masyarakat dr. Tan dan Remanley, Dr. Tan Shot Yen, berbagi strategi intervensi dan pencegahan malnutrisi dan gizi buruk pada anak. Dalam penjelasannya, mengacu pada pedoman teknis Kementerian Kesehatan tentang penyediaan makanan pendamping ASI (PMT) berbahan pangan lokal untuk anak dan ibu hamil, Dr. Tan menjelaskan algoritma yang dapat menjadi pedoman bagi tenaga kesehatan dan orang tua.

Prosedur Intervensi Gizi Buruk pada Anak: Di Puskesmas, status gizi anak dipastikan dan dilakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk mencari tanda bahaya. Jika ada tanda bahaya dan tidak bisa ditangani di puskesmas, maka anak akan dirujuk ke rumah sakit. Jika tidak ada tanda bahaya dan anak kecil mengalami kekurangan gizi dengan atau tanpa jamu, mereka dapat dirawat di pusat kesehatan masyarakat. Hal ini mencakup rawat jalan, edukasi, konseling gizi, dan pencegahan infeksi dengan pemberian PMT setiap minggu selama empat hingga delapan minggu. Selain itu, stimulasi perkembangan dan pemantauan berat badan mingguan oleh profesional kesehatan. Jika pertambahan berat badannya baik, anak dengan status gizi di atas -2 SD dapat dikirim ke posyandu. Jika setelah 14 hari berat badannya tidak kunjung bertambah atau ada tanda bahaya yang tidak bisa ditangani di puskesmas, maka anak kecil tersebut akan dikirim ke rumah sakit. Dari segi faktor risiko, dr Tan menjelaskan 5 pintu stunting yang harus diwaspadai: Saat ibu hamil: anemia, kurang energi kronis dan lengan kecil akan meningkatkan risiko BBLR dan anemia pada anak. Saat lahir: Kegagalan memulai menyusui dini menyebabkan kegagalan menyusui dan risiko tinggi untuk menyusui berikutnya. Pemberian ASI eksklusif adalah suatu kegagalan: anak sering sakit-sakitan, penggunaan susu formula yang berlebihan, alergi susu dan intoleransi laktosa. MPASI yang salah: Kuantitas dan kualitas MPASI tidak mencukupi. Anak-anak yang sering sakit: terkena berbagai penyakit seperti batuk, pilek, diare, TBC dan kurangnya vaksinasi.

Namun, Dr. Tan menekankan bahwa faktor risiko tersebut dapat dicegah dengan mendukung keluarga melalui literasi, pendidikan, sanitasi, vaksinasi, dan perencanaan ekonomi.

Untuk mendeteksi dini tanda-tanda stunting atau gizi buruk pada anak, Dr. Tan menyarankan para orang tua untuk memanfaatkan posyandu sebagai upaya preventif. Apabila anak Anda mengalami penurunan berat badan setelah penurunan berat badan, segera rujuk ke pusat kesehatan masyarakat untuk evaluasi dan pengobatan lebih lanjut.

Dr Tan Shot Yen menekankan, orang tua berperan penting dalam mencegah kegagalan. Deteksi dini melalui posjandu serta tindakan segera di puskesmas merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan anak dan mencegah dampak jangka panjang dari malnutrisi dan stunting.

Quick Count Bikin Asam Lambung? Ini Saran Dokter Jiwa Biar Nggak Terlalu Stres

Jakarta –

Tahapan pemungutan suara pada pemilu 2024 telah usai, namun ketegangan masih terjadi terkait fast count. Hati-hati, terlalu banyak stres bisa menyebabkan peningkatan asam lambung.

Stres dan berbagai gangguan kesehatan mental diyakini berdampak signifikan terhadap kesehatan fisik. Berbagai penyakit penyerta mulai dari jantung hingga sistem metabolisme bisa diperburuk oleh stres.

“Stres juga bisa berdampak pada lambung. Nggak mungkin, malah sering. Kalau stres meningkat, asam lambung pun meningkat,” kata psikiater dr. Ashwin Kandouw, SpKJ saat berbicara kepada wartawan, Selasa (13 Februari 2024).

Menurut dr. Bagi Ashwin, pesta Demokrat seharusnya menjadi saat yang menyenangkan meski sedikit menegangkan. Oleh karena itu, dia berpesan untuk tidak memikirkan hasil pemilu karena dapat menimbulkan stres yang lebih besar.

“Move on. Jalani terus, lakukan hal-hal yang lebih menyenangkan, seperti hobi, liburan, di luar rutinitas pekerjaan,” saran Dr. Ashwin.

“Mari kita berharap semua orang bisa sukses melaksanakan pemilu, menerima kemenangan atau kekalahan, agar tidak terlalu stres dan berakhir di rumah sakit karena penyakit penyertanya kambuh,” harap dr. Ashwin.

Tonton video “Imbalan Janji 1 Tenaga Kesehatan dan 1 Fasilitas Kesehatan di Desa” (up/naf)

Gejala Covid Subvarian XBB, Termasuk Batuk Terus Menerus, Sakit Kepala, sampai Nyeri Dada

Musikktropp – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan Covid-19 varian Omicron XBB ditemukan di Indonesia. Ia kemudian meminta semua pihak bekerja sama untuk meningkatkan efektivitas pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dan protokol kesehatan (prosedur) kesehatan masyarakat untuk menekan jumlah kasus Covid-19 subvarian IBD.

“Saat ini jumlah kasus di Singapura meningkat menjadi 6.000 kasus per hari karena adanya kasus varian baru CF. Varian tersebut sudah masuk ke Indonesia dan terus kami pantau,” kata Budi Gunadi, Jumat (21/10/2021). 2022). Meski belum ada bukti bahwa subtipe ini menyebabkan penyakit yang lebih parah, yuk simak gejala CKD subtipe Covid berikut ini.

Pasien di Singapura mengalami gejala ringan

Negara terdekat dengan Indonesia, Singapura, melaporkan peningkatan kasus Covid-19 akibat subtipe IBD. Kebanyakan pasien di Singapura melaporkan gejala CKD yang ringan, seperti sakit tenggorokan atau demam ringan, terutama jika mereka sudah mendapatkan vaksinasi. Varian penyakit ginjal kronis ini lebih berbahaya bagi orang yang tidak divaksinasi.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Dr. Ankita Baidya, konsultan penyakit menular di Rumah Sakit Manipal HCMCT India, mengatakan sebagian besar pasien varian CKD memiliki gejala ringan.

Namun, gejala dapat memburuk pada pasien dengan sistem imun lemah, pasien dengan penyakit penyerta, dan bahkan pada orang lanjut usia.

“Pada sebagian besar kasus PPOK bentuk ini, gejala saluran pernapasan bagian atas seperti sakit tenggorokan, batuk, dan hidung tersumbat bersifat ringan. Beberapa orang juga mengalami myositis (nyeri otot) atau keluhan perut yang parah,” jelas Dr. Baidya. Waktu India.

Tingkat keparahan subtipe CKD ini tidak terlalu parah, namun bisa menjadi lebih buruk bagi pasien, terutama penderita diabetes, lansia yang menunjukkan infeksi parah dan lebih mungkin dirawat di rumah sakit.

Gejala CKD subtipe covid-19

Subvarian XBB Omicron disebut sangat menular karena menyebabkan peningkatan kasus yang relatif cepat. Di bawah ini daftar ciri-ciri varian XBB. Batuk terus menerus Sakit kepala Nyeri dada Indera penciuman berubah Gangguan pendengaran Gemetar

Pekerjaan Kementerian Luar Negeri di Singapura

Alexander K Ginting, Ketua Divisi Kesehatan Darurat Satgas Covid-19, mengatakan varian XBB atau BA.2.10 telah teridentifikasi di beberapa negara. Mulai Agustus 2022, negara tersebut akan mencakup Singapura, Australia, Bangladesh, India, Jepang, Denmark, dan Amerika Serikat. Lebih dari 5.000 kasus varian XB telah dilaporkan di Singapura.

Berapa Lama Mata Merah yang Dialami Korban Tragedi Kanjuruhan Bisa Hilang?

Musikktropp – Beberapa penyintas kecelakaan Kanjuruhan di Malang masih mengalami mata merah beberapa hari setelah kejadian. Foto yang dibagikan di media sosial menunjukkan korban menderita mata merah di bagian kepala atau bagian putih matanya.

Dokter mata Prof. Dr. Nila F Moeloek menjelaskan, situasi tersebut bisa jadi disebabkan oleh reaksi kimia akibat efek gas air mata yang digunakan polisi di Stadion Kanjuruhan Malang.

“Bisa juga mengganggu. Kalau darahnya merah banget ya merah. Tapi kalau merah sepertinya ada yang alergi dan mungkin alergi,” kata Menkes 2014-2019 itu. Kewia Naswa Ainur Rohma dari Arema FC (Aremania) memperlihatkan mata merah usai menjadi salah satu korban cedera dalam kecelakaan Kanjuruhan, Rabu (12/10/2022), Kedungkandang, Malang, Jawa Timur. [ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj].

Ia menjelaskan, mata merah merupakan cara tubuh melindungi diri dari zat yang masuk. Pembuluh darah pada mata memberikan perlindungan terhadap gas air mata yang masuk ke mata.

Namun Prof Nila mengatakan, kondisi tersebut tidak bisa menyebabkan katarak.

“Kalau cepat dicuci tidak akan menyebabkan katarak,” ujarnya.

Agar indurasi menjadi putih dan normal, Prof. Tentu saja hal ini bisa berbeda pada setiap orang.

Tergantung. Sensitivitas setiap orang bisa berbeda-beda, kata sang profesor. Nila.

Sebelumnya, dokter spesialis mata JEC Kedoya, Dr. Florence Meilani Manurung, SpM., bahwa kondisi mata merah bisa hilang dengan sendirinya jika penglihatan tidak kabur.

Kondisi ini dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah kecil sehingga menyebabkan mata merah atau pendarahan subkonjungtiva.

“Kemerahan itu karena pecahnya pembuluh darah kecil. Bisa karena seseorang tergesek atau lebam karena benda tumpul. Mata merah (pendarahan subkonjungtiva) akan hilang dengan sendirinya jika tidak bengkak dan nyeri.” Jelas Dokter Florence saat dihubungi Musikktropp, Minggu (9/10/2022).

Jika mata merah terasa nyeri dan penglihatan Anda sedikit kabur, ingatkan Anda untuk segera menemui dokter.

BPOM Prediksi 10 Juta Kematian Terjadi di 2050 Akibat Resistensi Antimikroba

Musikktropp, PEKANBARU – Plt Deputi Pengawasan Narkoba dan Narkoba BPOM RI Rita Endang mengatakan pada tahun 2050, diperkirakan akan terjadi 10 juta kematian setiap tahunnya akibat resistensi antimikroba atau AMR.

Resistensi antimikroba merupakan fenomena bakteri, virus, jamur, dan parasit berubah seiring berjalannya waktu dan tidak lagi merespons terhadap obat, kata Rita Endang dalam keterangannya pada Rapat Pemberdayaan Masyarakat Resistensi Antimikroba di Pekanbaru, Senin. (02.05.2024)

Hal ini, lanjutnya, membuat infeksi menjadi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko penularan penyakit, kerusakan, dan kematian. Selain itu, jika tidak dikendalikan, AMR dapat mengurangi pendapatan pemerintah sebesar $3,4 triliun per tahun dan mendorong 24 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrem pada dekade berikutnya. Menurut dia, dampak AMR terhadap pertanian, peternakan, pangan, dan lingkungan.

Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai upaya penanggulangan secara masif dan berkelanjutan terhadap UPT BPOM di seluruh Indonesia, kata Rita.

Berdasarkan hasil survei perusahaan jasa farmasi (2021-2023), pada tahun 2023 jumlah apotek yang menjual antibiotik tanpa resep dokter sebanyak 70,49 persen, lebih rendah dibandingkan tahun 2021 dan 2022.

Jenis antibiotik yang umum dijual bebas adalah amoksisilin, sefadroksil, dan sefiksim, ujarnya.

Petugas kesehatan juga memiliki peran yang sama pentingnya dalam mengendalikan AMR, seperti halnya masyarakat, kata Rita.

Sementara itu, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Riau (UNRI), Devi Angreni mengatakan, resistensi antibiotik dapat terjadi bila pasien mengonsumsi antibiotik yang tidak digunakan dengan benar, dengan atau tanpa resep dokter. Seperti yang sering terjadi pada Rhea. Ia mengaku ditolak mendapatkan antibiotik saat membelinya tanpa resep dokter di Yogyakarta.

Namun setelah menjelaskan dan membuktikan bahwa saya seorang dokter, mereka siap menjual antibiotik saja tanpa resep dokter,” ujarnya.

Melakukan studi kasus di RSUD Ahmad Riau Ariffin dan RS Eka Beganparu, Devi menemukan hambatan dan hambatan dalam upaya pengendalian resistensi antimikroba.

“Karena masih banyaknya variasi pemahaman penggunaan antibiotik di kalangan dokter, maka Tim Program Resistensi Antimikroba (PPRA) belum memiliki staf yang full-time dan masih terdapat dokter yang tidak mau mengikuti pedoman antibiotik. menguji kultur sebelum memberikan antibiotik, mereka tidak menggunakan antibiotik sebagai reward atau budaya risiko,” ujarnya.

Oleh karena itu, menurutnya, perlu adanya pengetahuan berkelanjutan dan pemutakhiran pedoman penggunaan antibiotik dan profilaksis antibiotik secara berkala.